Kondisi perkeretaapian Commuter Jabodetabek agak memprihatinkan. Walaupun, dalam 6 bulan ini, perkeretaapian JKT-Boo sedikit ada perubahan. Semakin banyak jadwal untuk KRL ekonomi AC dan semakin sedikit jadwal untuk KRL Ekonomi biasa. Kalau jadwalnya ditambah, tidak akan dapat mengimbangi kapasitas rel yang terbatas, belum lagi penyesuaian jadwal di stasiun gambir dan manggarai yang akan menghambat jadwal perkeretaapian Commuter.
Masalah gerbong yang terlalu sedikit juga disesuaikan dengan kemampuan stasiun-stasiun sepanjang rel yang hanya mampu menampung 8 gerbong kereta api. Maklum, stasiun bogor dan jalur kereta api jabodetabek dibuat tahun 1881, dan sedikit sekali penambahan trayek baru. Bahkan ada pengurangan trayek, seperti jalur ancol dan tanjung priuk(baru-baru ini dimanfaatkan kembali). Stasiun bogor kini sedang dalam tahap pemugaran fisik, bukan ke pemugaran sistem.
Masalah pintu gerbong yang terbuka pada kereta ekonomi biasa, menurut saya disebabkan kereta api tersebut tidak menggunakan AC dan penuh sesak, sehingga apabila pintu tertutup dapat terjadi kekurangan oksigen di dalam kereta. Maka pintu KRL ekonomi biasa dahulu dipaksa dibuka. Bahkan pintu KRL ekonomi AC sering dipaksa dibuka apabila terlalu sesak, untungnya pintu tersebut dapat benar kembali.
Masalah penumpang di atas atap juga sudah berbagai cara dilakukan untuk mencegah penumpang naik. Dimulai dari peringatan tertulis dan lisan, hukum, modifikasi stasiun, penyemprotan cat, penolakan jadwal keberangkatan, SEMUANYA GAGAL. Bahkan, minat penumpang untuk naik ke atas atap semakin meningkat. Apabila kereta api terlalu sesak, orang akan berusaha apapun untuk naik kereta sekalipun itu membahayakan jiwanya daripada sengsara kekurangan oksigen dan kecopetan (Pengecualian untuk kaum preman stasiun yang naik ke atap untuk gaya-gayaan). Belum ada solusi kongrit untuk menyelesaian masalah ini. Tetapi, untuk KRL Ekonomi AC dan Ekspress tidak ada satupun penumpang di atas atap. Apakah seharusnya semua KRL Ekonomi diganti dengan KRL Ekonomi AC saja?
Hal-hal yang merugikan penumpang lainnya adalah terdapat banyak tipe kereta yang menyulitkan First-Timer untuk menggunakan jasa kereta api. Seringkali ditemukan orang yang kebingungan tipe2 kereta yang akan dinaiki. Biasanya, First-Timer pasti akan terkena denda karena salah naik kereta (apalagi First-Timer tersebut orang asing). Sistem elektronk yang sudah sejak setahun lalu dibangun juga tidak dimanfaatkan. Mungkin kini alat yang telah disediakan sudah rusak lagi. KRL Blue Line lingkar Ciliwung juga gagal, karena kurang peminat.
Disamping hal-hal negatif di atas, KRL Commuter secara positif sangat membantu transportasi orang Jakarta. Selain harganya cukup terjangkau, cepat dan efisien, KRL Commuter Jakarta kini cukup tepat waktu (Biasanya tepat waktunya hanya dari pukul 5 pagi – 12 siang, selebihnya kadang-kadang terlambat 15-6- menit).
Maka, dapat dibilang, sistem transportasi di Jakarta masih jauh tertinggal dari kondisi Das Sollen ( Yang seharusnya terjadi secara teoritis). Semoga, dengan pembangunan MRT dan Monorail akan dapat menyelesaikan permasalah transportasi kota Jakarta (Tetapi, kapan selesainya???). Permasalahan transportasi perkotaan sangat terkait dengan permasalan lingkungan sosial dan kualitas lingkungan hidup perkotaan. Pemilihan moda angkutan umum atau pribadi silahkan tentukan sendiri secara subjektif. Tetapi, jangan malas berjalan kaki dan bersepeda, manfaatkan kaki selagi masih bisa digunakan. Berjalan kaki dan bersepeda jelas ramah lingkungan, sehat dan terkadang lebih cepat dari kemacetan.
-Yodi-
“How Nature Can Respect You if You Can’t Respect Nature?”

Game PC Eco Tycoon adalah sebuah game strategi untuk menyelesaikan sebuah misi mendinginkan bumi dari pemanasan global. Game ini dibuat oleh ValuSoft dan Virtual Playground, sebuah perusahaan pembuat game-game tycoon seperti Prison Tycoon. Game ini mulai beredar di Indonesia mulai februari tahun 2009 .

Demam Berdarah Kini telah berubah, sejak awal ditemukannya di Surabaya pada tahun 1968, kini demam berdarah menjadi sebuah penyakit yang umum di masyarakat. Apabila dahulu DBD merupakan sebuah siklus penyakit lima tahunan, kini terjadi setiap tahun dan semakin berubah menjadi kasus setiap saat. Dari yang hanya menyerang anak-anak, kini orang dewasa dapat menjadi korbannya.